Lancar Bahasa Korea Untuk Pemula

Perkenalan Diri

Akhir-akhir ini demam Korea yang dikenal dengan sebutan Korean Wave atau hallyu dalam bahasa Korea ,sedang melanda seluruh dunia, yang disebarluaskan melalui sosial,budaya, dan ekonomi Korea Selatan. Bukan hanya di Asia, gelombang ini menyebar sampai Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Hal ini memengaruhi dunia internasional untuk mempelajari dan mendalami bahasa Korea sebagai suatu sarana untuk lebih dekat lagi dengan negara yang dijuluki negeri ginseng ini. Continue reading “Lancar Bahasa Korea Untuk Pemula”

Sejarah Hangeul

Annyeonghasimnikka yeoreobun.
Jega sogaereul hagesseumnida.
Jeoneun Yuni Rafika Dewi imnida.
Kali ini saya akan membahas sedikit mengenai sejarah hangeul.

Hangeul (한글) merupakan huruf resmi yang digunakan oleh bangsa Korea (Semenanjung Korea), meliputi Korea Utara dan Korea Selatan. Huruf ini diciptakan oleh raja keempat dari Dinasti Joseon (1418-1450 M), yaitu Raja Sejong Yang Agung (1397-1450 M) pada tahun 1443, tepat setelah 25 tahun beliau naik tahta. Raja Sejong dibantu para ilmuan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Jiphyeonjeon dalam proses penciptaan hangeul. Saat itu hangeul diberi nama “Hunmin Jeongeum” yang artinya “tulisan untuk rakyat” atau “suara yang benar(tepat) untuk diajarkan kepada rakyat” disertai penjelasannya.
Hunmin Jeongeum (훈민 정음) mulai dipublikasikan tiga tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 9 oktober 1446 dalam buku Hunmin Jeongeum Haeryebon (Edisi Penjelasan Hunmin Jeongeum). Hunmin Jeongeum kemudian dikenal dengan sebutan “Hangeul” yang artinya “The Script Of Han (Korea)” atau “Great Script”. Hangeul sendiri berarti “alfabet han” atau “alfabet agung” dalam bahasa Indonesia. Pada tahun 1997 Hunmin Jeongeum didaftarkan sebagai warisan dunia UNESCO dan menjadi harta nasional Korea Selatan nomor 70.
Hunmin Jeongeum Haeryebon (훈민 정음 핼예본) sebelum diciptakannya huruf hangeul, masyarakat Korea menggunakan aksara Tiongkok, orang Korea menyebutnya hanja (kanji). Karakter hanja yang rumit dan sangat banyak membuat aksara ini hanya dikuasai oleh kaum bangsawan (yangban) dan golongan elit. Pengucapannya juga berbeda dengan bahasa Korea sendiri agar rakyat kelas bawah pun mampu membaca maupun menulis. Ini sebagai bukti bahwa bangsa Korea bisa mandiri dan terlepas dari budaya Tionghoa.
Awalnya penggunaan hangeul sempat mendapat tentangan dari kaum bangsawan. Namun, Raja Sejong mampu mempertahankan huruf hangeul untuk digunakan dalam kehidupan bangsa Korea. Kini suku Cia-Cia di Sulawesi Tenggara, Indonesia, pun turut menggunakan huruf hangeul dalam penulisan bahasa tradisional mereka secara tidak resmi.

Cukup sekian ulasan mengenai sejarah singkatnya hangeul.
Gomapseumnida.
Annyeong